Tahap mentorship minggu kelima ini adalah check in progress. Jadi kita evaluasi sudah sampai mana tahap mentorship kali ini dan apakah masih sesuai jalur atau ada yang perlu diperbaiki. Pertemuan dengan mbak mentor dilakukan 2 kali, pertama hari Jum'at jam 8 sesuai kesepakatan mentorship kita dan hari Senin jam 11 untuk melakukan false celebration bersama mentee yang lain, saya pikir saya satu-satunya mentee mbak zizi ternyata total ada 5 orang.
Pertama saya perlihatkan action plan saya di minggu ketiga kemarin ke mbak zizi sambil saya menyiapkan hal yang akan disampaikan dalam mentorship minggu ini. Progress sampai minggu kelima ini adalah pijat refleksi masih dilakukan, menulis (mulai konsisten tiap hari), reframing pikiran (di tulis atau langsung), mencoba teknis nafas, menunda respon/memberikan alokasi khusus untuk cemas (jam 19 wib sampai sebelum tidur) (Gambar 1). Untuk teknis nafas, ada 3 referensi yakni nafas 478, nafas 4444, dan nafas dengan perbandingan inhale:exhale 1:2. Setelah dipraktekkan, maka teknis yang cukup nyaman adalah 478 tapi tanpa dihitung dan teknis nafas yang penting exhale lebih lama dibanding inhale. Rencana minggu ke 6 adalah praktik progressive muscle relaxation dan olahraga secara konsisten meskipun hanya beberapa menit. Rencana minggu ke 7 adalah praktik mindfullness dan fokus berpikir solusi. Nah untuk minggu ke-8 masih bingung, akhirnya mbak zizi menyarankan untuk mendalami teknik yang paling sesuai yakni pijat refleksi dan menulis. Sebelumnya memang mbak zizi menyakan dari beberapa teknik yang sudah dicoba mana yang sesuai, saya bilang pijat refleksi dan menulis adalah yang powerfull. Untuk false celebration mbak zizi tanya apakah mau bareng dengan mentee yang lain, saya bilang iya dan dilakukan hari senin jam 11. Selanjutnya mbak zizi juga menanyakan terkait 360 degree evaluation, saya bilang yang terpikirkan baru mbak zizi dan suami, terus mbak zizi menyarankan ke teman juga bisa dan diri sendiri. Saya bilang untuk teman, bisa diwakili oleh suami karena selama pandemi ini kan suami yang sering berada di sekitar saya, jadi tahu bagaimana saya menghandle kecemasan.
Untuk 360 degree evaluation, pertama dari mbak zizi, menurut mbak zizi saya sudah mulai menemukan cara yang tepat untuk memanajemen cemas, ditambah dengan bekal amunisi lain sehingga sewaktu waktu cara yang sudah dirasa cocok ternyata tidak cocok lagi maka bisa switch ke yang lain. Karena manusia adalah makhluk dinamis, jadi apa yang sesuai dengan kita sekarang belum tentu sesuai dengan diri kita 1 tahun lagi maka dari itu perlu terus belajar. Dan menurut mbak zizi, dengan saya yang antusias dan semangat belajar, itu merupakan modal yang sangat baik ke depan. Oiya saya bilang ke depan, saya ingin kolaborasi dengan mbak zizi, mbak zizi terkait ilmu psikologinya dan saya terkait ilmu cuaca. Dan mbak zizi setuju..semoga ke depan bisa terlaksana. Kedua feedback dari suami, kata suami sekarang sudah lebih baik, jarang kambuh mungkin karena kerja dari rumah selama pandemi ini. Terus kata suami, me time ku kebanyakan..hehe..memang, ,,sudah direncanakan kerja menggunakan laptop sampai jam 13 atau 14 ternyata kadang masih ada rapat atau yang lain. Terus habis itu kan harusnya waktu bersama anak-anak atau keluarga, nah karena memang lagi awal hamil jadi siang pengennya tidur, kadang-kadang sambil pegang HP. Kemudian kalau dari aku sendiri, tantanganku adalah masalah konsistensi, konsisten untuk terus menjaga semangat belajar tiap hari dan konsisten untuk mempraktikkan selfhealing atau hal baik di bunda cekatan ini tiap hari.
Selanjutnya adalah false celebration. Yang ikut dalam false celebration bersama ini adalah Mbak Yuli Rista Widowati (Jakarta), Mbak Fathia Arifa Hasanah (Bogor) dan Mbak Restu Ayu Ekatama (Bontang). Pertama dari Fathia, menurut mbak Fathia, beliau masih suka emosional dan reaktif, tapi dua pekan ke belakang lebih santai, belum semua langkah dalam action plan semua dikerjakan misal afirmasi positif. Penyebabnya belum fokus menekuni manajemen emosi masih terdistraksi dengan kelas online dan mendahulukan amanah lain. Yang sudah dilakukan adalah menyalurkan perasaan negatif, galau, jengkel dst melalui karya/menulis sebulan terakhir terjalankan meskipun belum rutin tiap hari. Untuk peningkatan self love juga dirasakan kembali dengan menulis, Bulan Juni ini buku antologi kelas penulisan sudah terbit. PR nya adalah lebih banyak praktik, juga bersungguh sungguh untuk menghadirkan diri ketika mengikuti forum seputar manajemen emosi. Selanjutnya adalah saya, tantangan dan progress nya seperti yang saya tulis dibagian 360 degree evaluation. Mbak fathia memberikan saran terkait tantangan saya, dengan cara membuat skala prioritas kegiatan harian, kemudian berusaha strict ke planning yang sudah dibuat, dieksplore lagi, dipajang dan komitmen. Kemudian Mbak Restu, menurut mbak Restu emosi negatif yang masih menjadi tantangan adalah marah mungkin karena ada luka pengasuhan setelah mengikuti mentorship ini penyebabnya sudah mulai bisa ditangani. Kemudian yang menjadi penyebab juga akhir-akhir ini adalah kurang istirahat dan terlalu santai menjalani hidup (sering rebahan dan gadget overtime). Beberapa hari lalu, benar-benar terpuruk dengan emosi yang tidak jelas bahkan merasa stress, sendiri, frustasi. Alhamdulillah Allah memberi cara untuk keluar dari keterpurukan yakni memaafkan diri sendiri, kemudian menulis. Mencoba menuangkan isi hati lewat tulisan. PR ke depan adalah mencari tahu lebih jauh tentang luka pengasuhan dan mencari cara untuk menyalurkan emosi negatif. Saya mengajak mbak Restu bergandengan tangan karena punya masalah terkait konsistensi yang sama meskipun nanti Bunda Cekatan telah selesai. Selanjutnya, mbak Yuli, masalah emosinya antara lain inner child, control emosi dan sering menyalahkan diri sendiri. Untuk tahap mentorship ini mbak Yuli memilih selfhealing. Sebelum menikah mbak Yuli mempunyai rasa percaya diri yang lumayan bagus tapi setelah menikah rasanya semuanya sirna, salah satu penyebabnya adalah bullying dari mertua kemudian menyebar ke keluarga besar hingga tetangga. Alhamdulillah sejak ikut ibu profesional perlahan kondisi psikis membaik tapi tetap saja ada rasa kok aku ga bisa masih ada. Saat tahap kepompong mulai ikhtiar tiap pagi afirmasi positif, malam sebelum tidur memafkan orang dan diri sendiri lalu mencari ilmu terkait selfhealing. Kendala dari mbak Yuli adalah manajemen waktu. Terakhir adalah mbak zizi, menurut mbak zizi beliau belum dekat dengan mentee, tapi kami sih maklum karena menteenya ternyata banyak dan menjadi working mom juga. False celebartion ini bagus karena kita saling memberi apresiasi dan support dan memberi saran/usul solusi.
![]() |
| Gambar 1 Progress Sampai Minggu Ke 5 Program Mentroship |

Komentar
Posting Komentar