Prolog:
Ibu Risman menjelaskan bahwa awal mula dari masalah seksual dan penyebab disoerientasi seksual zaman now adalah absennya orang tua pada kehidupan anak. Anak-anak yang BLAST (Bored, Lonely, Angry/Anxious, Stressed, Tired) akhirnya mencari pencarian kasih sayang dan hiburan di luar orang tua dan keluarganya. Bibit masalah pun dimulai anak-anak menjadi penasaran dengan berbagai hal menjurus pornografi dan mencari atau menikmati informasi dari berbagai media tanpa pengawasan. Selain virus BLAST yang memicu anak kurang paham tentang fitrah seksualitas adalah absennya ayah pada proses pengasuhan di rumah. Ketika anak-anak tidak terekspos pada figure orang tua yang seimbang, contohnya hanya ibu saja yang mendampingi anak, bapak sibuk di luar dan tidak membersamai keluarga, maka anak akan kehilangan kesempatan meneladani dan belajar dari sosok ayah. Senada dengan ibu Elly Risman, Ust. Harry Santosa mengungkapkan bahwa salah satu penyebab yang membuat anak-anak kurang melek terhadap fitrah seksualitas, lagi-lagi terletak pada peran orang tua dalam membersamai anak. Sejauh mana orang tua masuk dalam kehidupan anak sejauh itu pula level kelekatan dan kedekatan anak pada orang tua.

Materi:
Tambahan materi:
Sy jg mau sharing ilmu (kmrn ada kajian parenting di sekolah ank saya) tntg *peran ayah mendoakan ank terhindar dari zinah*.
Setelah azan, orang tua dianjurkan membaca surah Al-Qadar di telinga kanan si bayi saat lahir.
Khasiatny: menjauhkan si anak dari dosa besar zina sepanjang usianya kelak.
Share ilmu, dinoted ya:
Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiyatus Syekh bin Ibrahim Al-Baijuri ala Syarhil Allamah ibni Qasim Al-Ghazzi menerangkan.
و نقل عن الشيخ الديربي أنه يسن أن يقرأ فى أذن المولود اليمنى سورة إنا أنزلناه لأن من فعل به ذلك لم يقدر الله عليه زنا طول عمره. قال هكذا أخذناه عن مشايخنا
“ Dikutip dari Syekh Dairobi bahwa dianjurkan membaca surah Al-Qadar di lubang telinga kanan bayi. Karena, bayi mana saja yang diperlakukan demikian niscaya dilindungi Allah dari dosa zina seusia hidupnya. Kata Syekh Dairobi, ‘Demikianlah amalan yang kami terima dari para guru kami’.
Pertanyaan
Pnasaran jg sm *ukuran level kedekatan dan kelekatan ank kpda ortunya, seperti apa?*
Karena pada fase remaja, trkadang ank sdh tak mrsa nyaman *lekat* kpda ortuny dibandingkn masa kecil.
Soal keterbukaan tertarik dng lwan jenis misalnya. Bagaimana cra mengarahkanya??
Jawaban:
Kedekatan diukur dari seberapa nyaman anak membuka ruang untuk menceritakan tentang dirinya, dan hal ini perlu dibangun sejak dini.
Dimulai dari tahapan kita membangun komunikasi dengan anak.
Tujuh tahun pertama: usia bermain, komunikasi dibangun dengan cara menyenangkan
Tujuh tahun kedua: usia disiplin, ada batasan disiplin dalam komunikasi. Pada masa ini, kita spt teman. Jadi jika akan berbicara, perlu minta izin dulu
Tujuh tahun ketiga: usia aqil baligh, jk tahapan sebelumnya terjaga baik. Maka ditahap ini anak sdh lebih matang dalam komunikasi
Izin menambahkan ya mba titik..
saya teringat seminar Abah Ihsan yang menyarankan untuk anak remaja selain bermain bersama, quality timenya ditambah dengan waktu ngobrol one to one, berduaan saja dgn bapaknya/ibunya.. dirutinkan. Hal tersebut bisa menjadi cara untuk membangun rasa spesial dan kepercayaan anak pada ortunya.
2⃣ Mbak Astri
#tanya : bagaimana caranya agar peran ayah tetap seimbang dikala misal terjadi perpisahan orang tua, dan si anak tinggal bersama ibu?
Izin menjawab pertanyaan mba Astri..
Bagaimana jika ayah tiada? Baik itu karena perceraian, ataupun meninggal dunia..
Dengan cara menghadirkan ayah pengganti.. ayah pengganti ini bisa laki laki dewasa mana saja yang dipercaya, kakek, paman, guru mengaji, guru sekolah, yang itu bisa mengisi bejana jiwa sang anak.
Hal ini seperti terjadi pada Rasulullah Saw, yang yatim, peran ayah terdapat pada Abdul Muthalib kakeknya, kemudian abu Thalib pamannya..
jika kasus ayahnya masih ada bisa dengan menjaga komunikasi baik dengan anak sehingga pengasuhan tetap berjalan.
Tambahan:
Dan dalam berkomunikasi pada anak, perlu sekali mengedepankan adabnya, seperti:
1. Sampaikan kepentingan ortu dan tanyakan kapan waktu yg nyaman untuk keduanya
2. Persilahkan anak untuk menentukan waktunya, dapat kita berikan pilihan waktu
3. Dalam keadaan rileks/santai
4. Duduk bersama (ayahibu) dan anak berada ditengah
5. Gunakan bahasa tubuh yang ramah, gunakan sentuhan kasih sayang
6. Selalu katakan bahwa ortu menyayangi ananda
7. Berikan pujian dan teguran efektif
Komentar
Posting Komentar