Sekarang telah terjadi kesenjangan antara masa aqil dan masa balig. Usia balig (dewasa biologis reproduktif) terjadi pada usia 12-14 sedangkan masa aqil (dewasa psikologis produktif) pada usia 22-24 bahkan lebih. Faktor penghambat dan penghalang fitrah ini adalah usia balig anak makin cepat, pengaruh tontonan,gaya hidup, makanan tidak sehat,kedewasaan melambat, keteladanan dan model sekolah.
Beberapa perbedaan aqil dan balig:
Aqil : dewasa dalam hal mental, pengaruh pendidikan, terkait perkembangan otak, terkait tanggung jawab dan kemandirian
Balig : dewasa dalam hal fisik, pengaruh nutrisi makanan, terkait perkembangan nafsu, terkait fungsi reproduksi, terkait lifw and death instinc.
Rasulullah SAW telah memulai pendidikan generasi aqil baligh ini tentu pada dirinya sendiri lewat bimbingan Allah SWT. Usia 9 tahun, Rasulullah SAW telah magang berdagang ke Syams bersama pamannya. Lalu kemudian Rasulullah SAW mempraktekannya kepada sahabat-sahabat muda (sahabat yg masih anak ketika Rasulullah SAW sudah menjelang senja).
Ciri pubertas (balig)
Laki laki: mimpi basah, tumbuh bulu sekitar kemaluan dll, terjadi perubahan suara, tumbuh kumis dan jakun
Perempuan: haid, tumbuh bulu sekitar kemaluan dan ketiak,tumbuh payudara, pinggul membesar.
Pendidikan feminin untuk anak perempuan: keteladanan ibu, kecerdasan linguistik, melatih kesabaran, menumbuhkan kasih sayang dan empati,memiliki sifat maskulinitas secukupnya.
Pendidikan maskulin untuk anak laki laki:
Peran dan keteladanan ayah, melatih kekuatan fisik, membangun pola pikir rasional, belajar disiplin,keberanian,kepemimpinan, sifat feminin secukupnya.
Kurikulum menuju akil balig:
Wajib (iman dan islam), sunnah (dasar pengetahuan agama), umum (ilmumpilihan,life skill, sosial dll), pembentuk kepribadian.
Berikut ini penggalan penjelasan dari ust. Harry ::
Jadia 11 sampai 14, adalah fase latih pd tahap pre aqil baligh akhir menuju aqil baligh. Dari pengalaman, anak2 di usia 11 ke atas yg belum kenal Allah (contohnya malas Sholat) dan belum kenal diri (tak tahu bakat) maka akan lebih berat dan panjang recovery nya.
Begitupula dengan fitrah belajar, bhw anak2 yang belum terbiasa berfikir kritis, logis, bernalar pd usia di atas 10 tahun akan cenderung susah dirubah. Karenanya anak2 yg hanya belajar ketika disuruh, belajar ketika ada ujian, belajar hanya memenuhi tugas dll adalah pertanda fitrah belajarnya telah meredup.
Recovery nya juga lebih berat. Tentu mengenal Allah, mengenal diri (bakat), mengembangkan kemampuan berfikir kritis dll adalah perjalanan seumur hidup (journey), namun setidaknya usia 10 fondasinya selesai, dan tepat ketika aqilbalig (usia 14/15 tahun) fondasi ini telah berbentuk bangunan layak huni, layak memikul beban syariah, siap dikembangkan lebih lanjut dalam karya2 dan peran2 peradaban
Jadi ayah bunda, memperbanyak wawasan pd usia 0-10, dgn membaca/mengenal diri,
membaca/mengenal Tuhan, membaca alam/masyarakat sebaiknya sdh dipenuhi, krn pd usia 11-14 anak2 akan fokus pd tadribat lanjutan menuju kedewasaan atau aqil baligh, dimana kewajiban syariah akan setara dgn kedua orangtuanya.
Wawasan dan gagasan berubah menjadi pendalaman potensi dan aksi.
Kurikulum Pendidikan Generasi AqilBaligh
Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi AqilBaligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi AqilBaligh, menurut ustadz Adriano Rusfi .
Pendidikan AqilBaligh ini mulai intensif ketika anak berusia 10-12 tahun sampai usia 15-19 tahun, namun perlahan merawat fitrah ketika usia dini. Umumnya kita menggegas ketika usia dini sehingga banyak fitrah yang rusak, lalu sibuk memperbaikinya ketika menjelang aqilbaligh.
Prinsip Pendidikan Generasi AqilBaligh
1. Anak adalah manusia aqil-baligh dan mukallaf.
Anak berhak mengambil keputusan sendiri atas dirinya
Anak bertanggung jawab atas perilaku sadar dan bebasnya
Anak berhak memiliki ruang pribadi (privacy)
Anak telah terkena hukum-hukum sosial dan syariah
2.Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, mulia, dan berdaya
Anak harus diberikan kepercayaan untuk mengatasi masalahnya sendiri
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang bermoral dan mencintai kebenaran
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang memiliki kelengkapan dasar yang memadai dalam menjalani kehidupan
3.Allah telah menjadikan kehidupan ini sempurna dan mudah, dan tak akan membebani hambaNya kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya
Harus diyakini bahwa tak ada aspek kehidupan yang terlampau sulit untuk dijalani oleh Anak
Harus diyakini bahwa tak ada tantangan, tekanan, dan cobaan hidup yang terlampau berat untuk diatasi Anak.
Harus diyakini bahwa kehidupan itu sendiri telah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menjalaninya.
4.Kesuksesan di dunia merupakan salah satu indikator kesuksesan di akhirat
Anak harus dirangsang untuk membangun ambisi kehidupan yang maksimal dan realistis, di genggaman tangan, bukan di dalam hati
Anak harus memiliki perencanaan hidup yang matang sesuai dengan bakat dan kapasitasnya
Anak harus memiliki kinerja yang optimal sesuai standard kuantitas, kualitas dan waktu.
5. Allah itu hidup, berdiri, dan mengurusi makhlukNya
Harus diyakini bahwa Allah tetap terlibat dalam memberikan pertolongan kepada manusia, khususnya Anak, dalam memikul beban kehidupan.
Harus diyakini bahwa Allah telah memberikan bekal khusus kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan yang khas, sesuai dengan ruang dan waktu yang dihadapi
6.Kehidupan adalah guru yang terbaik
Anak harus diberikan kesempatan seluas mungkin untuk menjalani dan belajar dari kehidupan.
Anak perlu dilibatkan secara optimal dalam permasalahan-permasalahan kehidupan di lingkungannya.
Perlu disediakan sebuah model kehidupan yang realistis sebagai wahana pelatihan dan pembelajaran hidup nyata bagi Anak.
7. Allah telah menjadikan kehidupan ini sebagai ladang, permainan, dan cobaan
Anak harus dikembangkan untuk menjadi manusia yang aktif dan produktif
Anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menggembirakan.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima dan menjalani permasalahan dan cobaan hidup secara alami
8. Keterlibatan dalam realita kehidupan di dunia dengan segala konsekwensinya merupakan prasyarat keimanan dan surga
Anak harus diberikan kesempatan untuk mengalami dan merasakan hukum-hukum kehidupan secara wajar.
Anak harus dihadapkan pada realita kehidupan yang terjadi pada ruang dan waktu kehidupannya.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima ujian-ujian kehidupan, baik material, maupun mental
Untuk menjalani Prinsip Prinsip di atas maka berikut adalah beberapa aktifitas yang dapat dimasukkan ke dalam program pendidikan generasi AqilBaligh.
Dalam pembinaan Pemuda di Masjid, maka peran komunitas harus terlibat secara penuh termasuk para orangtua Jama'ah Masjid.
1. Mencari nafkah
Ingatkan jauh-jauh hari : saat baligh, kamu harus menghidupi diri sendiri
Sekali lagi : belajar tega
Jangan penuhi 100 % permintaan
Berbisnis mulai dari rumah
Sharing pekerjaan pada anak
Mulai dari mencari uang jajan
2. Latihan berorganisasi
Berorganisasi adalah berkehidupan
Organisasi : manajemen, kerjasama, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dsb.
Mulai dari mengorganisir rumah
Menjadi EO acara keluarga
OMIS : Organisasi Murid Intra Sekolah
3. Pendidikan yang berani dan tega
Jaman memang sudah berubah, namun berubah lebih keras
Di luar sana makin tak aman, namun anak jangan disembunyikan
Mewariskan jalan sukses, bukan hasil sukses
Hadirkan si Raja Tega
4. Membangun Tanggungjawab
Anak tak selemah yang dibayangkan
Consequential learning
Tangan mencencang – bahu memikul
“Membalas” perlakuan
Merasakan (sebagian) akibat dari perbuatan
Berikan kebebasan
Serahkan amanah dan tanggungjawab
5. Memecahkan masalah
Anak bukan makhluk bodoh
Jangan sembunyikan masalah
Saling berbagi masalah
Menekan percepatan baligh
Bawa masalah kehidupan ke rumah
Rajinlah berdiskusi
Ajarkan problem solving
Beberapa perbedaan aqil dan balig:
Aqil : dewasa dalam hal mental, pengaruh pendidikan, terkait perkembangan otak, terkait tanggung jawab dan kemandirian
Balig : dewasa dalam hal fisik, pengaruh nutrisi makanan, terkait perkembangan nafsu, terkait fungsi reproduksi, terkait lifw and death instinc.
Rasulullah SAW telah memulai pendidikan generasi aqil baligh ini tentu pada dirinya sendiri lewat bimbingan Allah SWT. Usia 9 tahun, Rasulullah SAW telah magang berdagang ke Syams bersama pamannya. Lalu kemudian Rasulullah SAW mempraktekannya kepada sahabat-sahabat muda (sahabat yg masih anak ketika Rasulullah SAW sudah menjelang senja).
Ciri pubertas (balig)
Laki laki: mimpi basah, tumbuh bulu sekitar kemaluan dll, terjadi perubahan suara, tumbuh kumis dan jakun
Perempuan: haid, tumbuh bulu sekitar kemaluan dan ketiak,tumbuh payudara, pinggul membesar.
Pendidikan feminin untuk anak perempuan: keteladanan ibu, kecerdasan linguistik, melatih kesabaran, menumbuhkan kasih sayang dan empati,memiliki sifat maskulinitas secukupnya.
Pendidikan maskulin untuk anak laki laki:
Peran dan keteladanan ayah, melatih kekuatan fisik, membangun pola pikir rasional, belajar disiplin,keberanian,kepemimpinan, sifat feminin secukupnya.
Kurikulum menuju akil balig:
Wajib (iman dan islam), sunnah (dasar pengetahuan agama), umum (ilmumpilihan,life skill, sosial dll), pembentuk kepribadian.
Berikut ini penggalan penjelasan dari ust. Harry ::
Jadia 11 sampai 14, adalah fase latih pd tahap pre aqil baligh akhir menuju aqil baligh. Dari pengalaman, anak2 di usia 11 ke atas yg belum kenal Allah (contohnya malas Sholat) dan belum kenal diri (tak tahu bakat) maka akan lebih berat dan panjang recovery nya.
Begitupula dengan fitrah belajar, bhw anak2 yang belum terbiasa berfikir kritis, logis, bernalar pd usia di atas 10 tahun akan cenderung susah dirubah. Karenanya anak2 yg hanya belajar ketika disuruh, belajar ketika ada ujian, belajar hanya memenuhi tugas dll adalah pertanda fitrah belajarnya telah meredup.
Recovery nya juga lebih berat. Tentu mengenal Allah, mengenal diri (bakat), mengembangkan kemampuan berfikir kritis dll adalah perjalanan seumur hidup (journey), namun setidaknya usia 10 fondasinya selesai, dan tepat ketika aqilbalig (usia 14/15 tahun) fondasi ini telah berbentuk bangunan layak huni, layak memikul beban syariah, siap dikembangkan lebih lanjut dalam karya2 dan peran2 peradaban
Jadi ayah bunda, memperbanyak wawasan pd usia 0-10, dgn membaca/mengenal diri,
membaca/mengenal Tuhan, membaca alam/masyarakat sebaiknya sdh dipenuhi, krn pd usia 11-14 anak2 akan fokus pd tadribat lanjutan menuju kedewasaan atau aqil baligh, dimana kewajiban syariah akan setara dgn kedua orangtuanya.
Wawasan dan gagasan berubah menjadi pendalaman potensi dan aksi.
Kurikulum Pendidikan Generasi AqilBaligh
Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi AqilBaligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi AqilBaligh, menurut ustadz Adriano Rusfi .
Pendidikan AqilBaligh ini mulai intensif ketika anak berusia 10-12 tahun sampai usia 15-19 tahun, namun perlahan merawat fitrah ketika usia dini. Umumnya kita menggegas ketika usia dini sehingga banyak fitrah yang rusak, lalu sibuk memperbaikinya ketika menjelang aqilbaligh.
Prinsip Pendidikan Generasi AqilBaligh
1. Anak adalah manusia aqil-baligh dan mukallaf.
Anak berhak mengambil keputusan sendiri atas dirinya
Anak bertanggung jawab atas perilaku sadar dan bebasnya
Anak berhak memiliki ruang pribadi (privacy)
Anak telah terkena hukum-hukum sosial dan syariah
2.Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, mulia, dan berdaya
Anak harus diberikan kepercayaan untuk mengatasi masalahnya sendiri
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang bermoral dan mencintai kebenaran
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang memiliki kelengkapan dasar yang memadai dalam menjalani kehidupan
3.Allah telah menjadikan kehidupan ini sempurna dan mudah, dan tak akan membebani hambaNya kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya
Harus diyakini bahwa tak ada aspek kehidupan yang terlampau sulit untuk dijalani oleh Anak
Harus diyakini bahwa tak ada tantangan, tekanan, dan cobaan hidup yang terlampau berat untuk diatasi Anak.
Harus diyakini bahwa kehidupan itu sendiri telah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menjalaninya.
4.Kesuksesan di dunia merupakan salah satu indikator kesuksesan di akhirat
Anak harus dirangsang untuk membangun ambisi kehidupan yang maksimal dan realistis, di genggaman tangan, bukan di dalam hati
Anak harus memiliki perencanaan hidup yang matang sesuai dengan bakat dan kapasitasnya
Anak harus memiliki kinerja yang optimal sesuai standard kuantitas, kualitas dan waktu.
5. Allah itu hidup, berdiri, dan mengurusi makhlukNya
Harus diyakini bahwa Allah tetap terlibat dalam memberikan pertolongan kepada manusia, khususnya Anak, dalam memikul beban kehidupan.
Harus diyakini bahwa Allah telah memberikan bekal khusus kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan yang khas, sesuai dengan ruang dan waktu yang dihadapi
6.Kehidupan adalah guru yang terbaik
Anak harus diberikan kesempatan seluas mungkin untuk menjalani dan belajar dari kehidupan.
Anak perlu dilibatkan secara optimal dalam permasalahan-permasalahan kehidupan di lingkungannya.
Perlu disediakan sebuah model kehidupan yang realistis sebagai wahana pelatihan dan pembelajaran hidup nyata bagi Anak.
7. Allah telah menjadikan kehidupan ini sebagai ladang, permainan, dan cobaan
Anak harus dikembangkan untuk menjadi manusia yang aktif dan produktif
Anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menggembirakan.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima dan menjalani permasalahan dan cobaan hidup secara alami
8. Keterlibatan dalam realita kehidupan di dunia dengan segala konsekwensinya merupakan prasyarat keimanan dan surga
Anak harus diberikan kesempatan untuk mengalami dan merasakan hukum-hukum kehidupan secara wajar.
Anak harus dihadapkan pada realita kehidupan yang terjadi pada ruang dan waktu kehidupannya.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima ujian-ujian kehidupan, baik material, maupun mental
Untuk menjalani Prinsip Prinsip di atas maka berikut adalah beberapa aktifitas yang dapat dimasukkan ke dalam program pendidikan generasi AqilBaligh.
Dalam pembinaan Pemuda di Masjid, maka peran komunitas harus terlibat secara penuh termasuk para orangtua Jama'ah Masjid.
1. Mencari nafkah
Ingatkan jauh-jauh hari : saat baligh, kamu harus menghidupi diri sendiri
Sekali lagi : belajar tega
Jangan penuhi 100 % permintaan
Berbisnis mulai dari rumah
Sharing pekerjaan pada anak
Mulai dari mencari uang jajan
2. Latihan berorganisasi
Berorganisasi adalah berkehidupan
Organisasi : manajemen, kerjasama, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dsb.
Mulai dari mengorganisir rumah
Menjadi EO acara keluarga
OMIS : Organisasi Murid Intra Sekolah
3. Pendidikan yang berani dan tega
Jaman memang sudah berubah, namun berubah lebih keras
Di luar sana makin tak aman, namun anak jangan disembunyikan
Mewariskan jalan sukses, bukan hasil sukses
Hadirkan si Raja Tega
4. Membangun Tanggungjawab
Anak tak selemah yang dibayangkan
Consequential learning
Tangan mencencang – bahu memikul
“Membalas” perlakuan
Merasakan (sebagian) akibat dari perbuatan
Berikan kebebasan
Serahkan amanah dan tanggungjawab
5. Memecahkan masalah
Anak bukan makhluk bodoh
Jangan sembunyikan masalah
Saling berbagi masalah
Menekan percepatan baligh
Bawa masalah kehidupan ke rumah
Rajinlah berdiskusi
Ajarkan problem solving





Komentar
Posting Komentar