1. Bunda Titik
sambil nanya ya mbak.. sdh boleh kah?
Video diatas.. kira2 anak2 tsb dpt inspirasi dari mana sajakah?
Mungkinkah orang tua berkontribusi dlm hal ini?
Mungkin saja kedua anak tersebut sudah terpapat gadget dan internet, seperti materi kita sebelumnya.. kontribusi orang tua menurut saya 'ada' karena pengawasan dan perhatian menjadi hal penting yang perlu orang tua berikan kepada anak. Salah satu hal yang menjadi tantangan kita dalam materi ini juga mencakup, "tidak melakukan perbuatan secara sembunyi sembunyi.
Terlihat di video melakukan sebelumnya celingak-celinguk, dan seperti di pojok ruangan
Khawatir jika sudah kecanduan pornografi dapat merusak otaknya
Butuh pendekatan dari orang tua.
Orang tua yang memiliki kedekatan dengan anak, barang tentu bisa membuka segala hal, tidak riskan bagi sang anak bertanya kepada orang tuanya, rasa penasaran akan tubuhnya sudah dijelaskan sejak dini maka perbuatan ig sembunyi-sembunyi bisa tesarselesaikan. Contoh : seorang anak yang penasaran tentang bagian vital , maka jika sang anak sudah mendapatkan penjelasan, maka ia akan tahu berbuat apa dengan tubuhnya.
Tambahan dari saya, sesuai dari materi Solusi pada slide kami, pengenalan alat vital, dan siapa saja yg boleh menyentuh tubuh kita itu sangat dibutuhkan anak. Anak anak itu kemungkinan terpapar pornografi yg diperoleh dari gadget dan internet. Kurangnya pendidikan seksual sesuai fitrah membuat si anak terbawa arus pornografi yg mungkin mereka belum mengerti.
🙋🏼♀ mau bertanya mba..boleh dijelaskan mba secara spesifik peran ayah atau ibu dalam menumbuhkan fitrah seksualitas di umur anak 0 - 4 tahun unk anak perempuan dan laki2..
Usia 0-2 tahun - merawat kelekatan (attachment) awal
Anak lelaki atau anak perempuan didekatkan kepada ibunya karena ada masa menyusui. Ini tahap membangun kelekatan dan cinta.
Usia 3-6 tahun - menguatkan konsep diri berupa identitas gender
Anak lelaki dan anak perempuan di dekatkan kepada ayah dan ibunya secara bersama. Usia 3 tahun, anak harus dengan jelas mengatakan identitas gendernya. Misalnya anak perempuan harus berkata "bunda, aku perempuan", sebaliknya juga anak lelaki.
Jika sampai usia 3 tahun masih "bingung" identitas gendernya, ada kemungkinan sosok ayah atau sosok ibu tidak hadir. Inilah tahap penguatan konsep identitas gender pada diri anak
Pada tahap ini praktek "toileting", dapat dijadikan juga sarana menumbuhkan fitrah seksualitas berupa penguatan konsep diri atau identitas gendernya
Diharapkan usia 3 tahun anak sudah bisa mengatakan dengan jelas bahwa ia laki-laki atau perempuan. Melalui peran ayah dan ibu yang seimbang. Anak laki-laki dapat contoh dari ayah bagaimana cara berbicara, berpakaian, bertingkah laku sebagai seorang laki-laki. Dan perempuan mendapatkan dari sang ibu.
Jdi sy bisa menarik kesimpulan bahwa sejak bayipun peran ayah juga harus tetap sama dengan ibu walaupun kedekatan masih dominan kepada ibunya.
syg dah habis waktunya ya.. sedikit penasaran ttg salah satu poin slide di atas... sosok ayah ditampilkan sebagai the person of "tega" dan ibu sebagai "pembasuh luka"
ini klo terbalik bgmn ya.. apakah akan berdampak thd FS.. misalnya di suatu rumah tangga si bunda cenderung lebih galak dan tegas drpd ayah.. dan ayah lbh sabar.. apakah akan brpengaruh negatif? haruskah selalu ayah sbg ikon ketegasan dan bunda ikon kelembutan..
Kalo yg saya tau dari seminar ust. Harry, ini yang idealnya sang ayahlah ikon ketegasan dan ibulah ikon kelembutan. Bagaimana kalau terbalik?
Berarti ayah atau ibu belum sadar akan perannya. Atau mungkin ibu mengambil peran ganda. Ibu yang mengambil peran ganda menjadi tergerus fitrah kelembutannya.
Jika ayah belum mau ikut didik anak?
1. Ayah tidak merasa bahwa mendidik anak itu adalah bagian dari Aqidah. Termasuk bahwa anak adalah pelanjut misi perjuangan (regenerasi) dari Ayah. Misi perjuangan itu jelas bagian dari Aqidah. Di akhirat, ayah dan anak akan dipersambungkan lagi apabila ada ikatan aqidah atau ikatan yg sama dalam perjuangan.
2. Di masa anak, banyak anak lelaki kehilangan figur ayah (baik ayah ada maupun tiada), sehingga have no idea to be a good father. Beberapa kasus dimana ayah di masa lalu sangat dominan egonya, maka muncul anak lelaki yg malah kurang supply ayah, ketika dewasa menjadi peragu, posesif bahkan membenci sosok ayah.
3. Para Ayah yg salah karir jelas tak akan fokus menjalani peran ayah, karena fitrah lelaki itu "single tasking", mereka akan sulit move on jika sesuatu yang menjadi aktifitas utamanya ternyata bukan panggilan hidupnya atau tdk sesuai dgn bakatnya dstnya.
Solusinya? Dido'akan









Komentar
Posting Komentar